Insentif di Aturan Baru Jonan: Eksplorasi Migas Bebas Pajak

Solid Gold Pemerintah memberi insentif untuk memicu gairah investasi di bisnis hulu minyak dan gas bumi (migas). Insentif itu diatur dalam Peraturan Pemerintah No.72 Tahun 2017 tentang pengembalian biaya operasi (cost recovery) dan pajak penghasilan di bidang usaha hulu migas.

Pertama, pada masa pencarian cadangan baru (eksplorasi) Kontraktor Kontrak Kerja Sama dibebaskan dari kewajiban perpajakan, seperti bea masuk, Pajak Pertambahan Nilai (PPN), Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM), PPH Impor, serta pengurangan PBB bisa sampai 100% sesuai diskresi Menteri Keuangan.

Sedangkan pada masa eksploitasi maka insentif tersebut akan diberikan sesuai pertimbangan keekonomian.

“Sekarang masa eksplorasi diberikan bebas bea masuk, PPN, PPh Impor, pengurangan PBB 100%. Untuk masa eksploitasi harus ada pertimbangan keekonomian. Jangan sampai super fasilitas. Misalnya pengurangan PBB dibatasi hanya 400%,” ujar Direktur Peraturan Perpajakan II Direktorat Jenderal Pajak Kementerian Keuangan Yunirwansyah, di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta Pusat, Rabu (19/7/2017)

Kedua, bagi hasil migas yang dinamis. Maksudnya, pemerintah menimbang risikorisiko tertentu dalam penentuan bagi hasil migas. Misalnya, perubahan pada harga migas, tingkat produksi, serta rasio penerimaan dan biaya operasi.

“Kalau seandainya dalam suatu masa harga minyak itu meningkat dari biasanya, maka pemerintah akan mendapatkan hak untuk mendapatkan ganti rugi, dan sebaliknya kontraktor bisa mendapatkan hal yang sama jika situasi terbalik,” jelas Yunirwansyah.

Ketiga, beberapa hal yang sebelumnya tak masuk cost recovery, kini dimasukkan. Misalnya, biaya pengembangan lingkungan dan masyarakat atau CSR pada masa eksploitasi, PPh Karyawan yang dibayarkan sebagai tunjangan PPh, serta biaya pemrosesan gas ke LNG.

“Kita senang menegaskan supaya jangan lagi halhal seperti ini membebani. Karena kalau industri migas keberatan, jumlahnya bukan Rp 10 miliar bisa sampai triliunan rupiah,” tutur Yunirwansyah.